Beranda | Artikel
Kemurnian Aqidah dan Pengampunan Allah
15 jam lalu

Kemurnian Aqidah dan Pengampunan Allah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Ushul ad-Dakwah as-Salafiyah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Sabtu, 22 Syawal 1447 H / 11 April 2026 M.

Kajian Tentang Kemurnian Aqidah dan Pengampunan Allah

Lihat Pilar Keempat: Memperhatikan Aqidah Salaf

Penulis, Fadhilatusy Syaikh Abdussalam bin Barjas Al-Abdul Karim Rahimahullah, menyatakan:

“Aqidah apabila bersih dari berbagai noda dan penyimpangan, maka pemiliknya termasuk penghuni surga tanpa diragukan lagi, sekalipun ia melakukan dosa-dosa besar. Sebab, para pelaku dosa besar urusannya berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki, Allah akan mengazab mereka kemudian memasukkan mereka ke dalam surga karena tauhid mereka. Bahkan sebelum itu pun dengan karunia dan kemudahan-Nya, jika Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki, Allah akan mengampuni mereka. Maka aqidah itu -Demi Allah- adalah keselamatan dan penjagaan.”

Aqidah yang selamat dari kesyirikan dan kekufuran bukan sekadar berstatus bernama Islam, melainkan aqidah yang menjadi sebab utama seorang hamba meraih keselamatan dan dimasukkan ke dalam surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menerapkan tauhid yang murni serta menjaga keselamatan aqidah dari kesyirikan adalah pelindung terbesar bagi hamba pada hari kiamat.

Mengenai dosa kesyirikan, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa`[4]: 48)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa dosa kesyirikan tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi siapa saja yang meninggal dunia dalam keadaan syirik. Adapun dosa-dosa selain kesyirikan, meskipun berupa dosa-dosa besar seperti membunuh, mencuri, berzina, meminum khamar, atau berjudi, jika pelakunya meninggal sebelum bertobat, urusannya berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala (tahtal masyi’ah). Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki, Allah akan mengampuninya, dan jika Allah menghendaki, Allah akan mengazabnya terlebih dahulu.

Demikian prinsip keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa seorang ahli tauhid yang melakukan dosa besar dan tidak mati dalam keadaan musyrik tidak akan dikekalkan di dalam neraka, melainkan pada akhirnya pasti masuk surga.

Kepastian masuknya ahli tauhid ke dalam surga ditegaskan pula dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu ‘Anhu:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَدْخَلَهُ اللهُ الجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ العَمَلِ

“Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal yang telah dilakukannya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ قَالَ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ ثُمَّ مَاتَ عَلَى ذٰلِكَ إِلاَّ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Tidak ada seorang hamba pun yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ kemudian ia meninggal di atas keyakinan tersebut melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari)

Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai seorang hamba yang mengucapkan kalimah tauhid: “Meskipun ia berzina dan meskipun ia mencuri?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ

“Meskipun ia berzina dan meskipun ia mencuri.” (HR. Bukhari)

Selama seorang hamba meninggal di atas tauhid dan tidak berada di atas kesyirikan, ia pasti masuk ke dalam surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pernyataan tersebut bukan berarti ia tidak akan disiksa terlebih dahulu atas dosa-dosanya, melainkan menegaskan bahwa ia tidak akan dikekalkan di dalam neraka. Hal inilah yang dimaksud oleh penulis bahwa apabila aqidah seseorang selamat dari kesyirikan, pemilik aqidah tersebut pasti menjadi penghuni surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keutamaan tauhid ini ditegaskan pula dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu:

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ

“Akan keluar dari neraka siapa saja yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ sedangkan di dalam hatinya terdapat keimanan meskipun hanya satu helai rambut.” (HR. Bukhari)

Meskipun seseorang berbuat maksiat, selama tidak mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla, pemilik aqidah yang benar pasti akan menjadi penghuni surga tanpa ada keraguan.

Penulis melanjutkan penjelasannya bahwa sekalipun seseorang melakukan dosa besar, nasib pelaku dosa besar dikembalikan kepada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika menghendaki, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengazabnya terlebih dahulu, kemudian memasukkannya ke dalam surga disebabkan tauhid serta karunia-Nya. Dengan demikian, tauhid yang benar merupakan pelindung agar seseorang tidak dikekalkan di dalam neraka Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Singkatnya, aqidah yang selamat dari syirik akbar adalah penyelamat. Pelaku dosa besar yang meninggal dunia tanpa sempat bertobat, jika ia seorang ahli tauhid, urusannya berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kondisi ini berbeda dengan pelaku kesyirikan yang tidak memiliki tempat selain neraka. Bagi pelaku dosa besar, Allah ‘Azza wa Jalla dapat mengampuninya secara langsung atau mengazabnya terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke dalam surga.

Selanjutnya, Penulis Rahimahullahu Ta’ala menyatakan:

“Hampir-hampir engkau tidak melihat seseorang yang lurus aqidahnya melainkan amalan-amalan kebajikan dan seluruh ketaatan terasa lebih ringan baginya daripada membawa sehelai bulu. Oleh karena itu, perhatian terhadap aqidah dan upaya memperbaikinya termasuk perkara yang paling agung dan amal yang paling besar.”

Keselamatan aqidah dan keabsahan tauhid memiliki pengaruh yang sangat besar dalam diri seorang hamba. Hamba yang memiliki aqidah benar dan tauhid yang selamat akan merasa ringan dalam melakukan ketaatan, mencintai kebaikan, berlapang dada dalam beribadah, tidak malas, serta memiliki keteguhan (tsabat) untuk terus beristiqamah.

Sebagai gambaran, latihan shalat malam dan shalat witir selama bulan Ramadhan kerap kali terhenti setelah bulan Ramadhan berlalu. Hal tersebut berkaitan erat dengan tingkat kelurusan aqidah dan keselamatan tauhid. Seseorang yang bertauhid secara murni serta terbebas dari penyakit riya akan memiliki kelapangan dada untuk senantiasa mengerjakan ketaatan. Riya merupakan penyebab kemalasan beramal saat tidak dilihat oleh manusia. Sebaliknya, keikhlasan tauhid mendorong kemudahan dan kesemangat dalam beribadah.

Tanda hidayah dan kelapangan dada untuk menerima Islam ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلَامِ…

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam.” (QS. Al-An’am[6]: 125)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa di antara tanda hidayah adalah kelapangan dada dalam menerima keislaman. Seseorang yang dadanya dilapangkan untuk Islam tidak akan merasa berat dalam menjalankan ketaatan-ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kebersihan qalbu, kemurnian tauhid, dan kelurusan aqidahnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 7:

…وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat[49]: 7)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa iman atau tauhid yang benar serta aqidah yang selamat apabila telah menancap di dalam kalbu akan menjadikan seorang hamba mencintai ibadah dan membenci kemaksiatan. Seseorang yang ingin terlepas dari kecanduan maksiat perlu meninggikan tauhidnya dan membersihkan aqidahnya, niscaya ia akan bersemangat mengerjakan ketaatan dan takut melakukan kemaksiatan.

Dalil lain yang menunjukkan bahwa tauhid yang benar dan aqidah yang selamat menjadi sebab seseorang dimudahkan untuk beramal saleh adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Fussilat ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ…

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga’.” (QS. Fussilat[41]: 30)

Istiqamah dalam beramal saleh merupakan buah manis dari aqidah yang benar dan tauhid yang selamat. Aqidah yang bersih dari kesyirikan, baik besar maupun kecil, memudahkan seseorang untuk mengerjakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Hal tersebut dikuatkan pula oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Az-Zumar ayat 22:

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ…

“Siapa yang dilapangkan oleh Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam maka dia akan diatas cahaya Allah.“ (QS. Az-Zumar[39]: 22)

Seseorang yang dilapangkan dadanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menerima Islam berada di atas cahaya-Nya, sehingga terasa ringan baginya dalam mengerjakan ketaatan, menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menjaga shalat berjamaah di masjid bagi kaum laki-laki berkat aqidah yang benar dan tauhid yang selamat.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian lengkapnya.

Download mp3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56613-kemurnian-aqidah-dan-pengampunan-allah/